Pemuka Yang Terbelakang

Kalimat yang memang pantas untuk menampar para pendahulu yang mengaku peduli Negeri. Hari ini adalah hasil dari hari kemarin. Setiap hari adalah sejarah di esok hari, bukan?

Dan inilah beberapa kaca mata Negeri ini. Di saat Sumber Daya Alam terus dikuras demi mencukupi kebutuhan yang entah karna memang butuh atau serakah. Kita tidak sedang berbicara tentang politik atau pemerintahan.
Ini tentang moral dan nurani. Bagaimana sebagian manusia memaksakan diri untuk menjadi sebagian dari pemuka, tapi justru merekalah yang terbelakang.
Memaksakan hidup di tengah kota demi pundi-pundi rupiah, sibuk membangun dan menimbun tahta dan harta.

Jika moral Negeri belum juga sampai pada aliran darah dan melekat pada jiwa, rasa acuh pada mereka yang terbelakang akan menjadi doktrin baru bagi penerusnya.

Kota besar tidak benar-benar besar karna nyatanya kota tersebut menjadi padat dan menyesak. Sehingga membangun bangunan Vertikalpun menjadi salah satu opsi. Namun tidak sepenunhnya menjadi solusi. Karna mengumpulkan ratusan keluarga akan membangun bermacam-macam latar belakang masing-masing keluarga dan akhirnya memudar dan membaur. Jika kota besar selalu menjadi acuan untuk merubah nasib dan pedesaan menjadi semakin tertinggal, kenapa sibuk memenuhi kota besar dan tidak mencoba memajukan kota kecil dan pedesaan?

Sebagai contoh, banyak cabang perusahaan atau lembaga berpusat di kota besar. Kenapa tidak dimulai dengan meletakkan kantor pusat justru di kota lain? Semua menuntut untuk datang tepat waktu namun malah bertumpah di jalan dan berujung pada kemacetan dan kepadatan. Berkali-kali infrastuktur diotak-atik dan memutar otak untuk menjadi solusi, tapi tidak akan bisa terselesaikan. Karna batas wilayah tidak bisa diperluas untuk menampung banyak penghuni. Namun semua petinggi membangun kantor pusat di kota besar. Sehingga mau tak mau, kota itulah yang memang akan terus menjadi tujuan pendatang.

Apapun itu, kembali pada moral dan nurani masing-masing. Karna selalu ada sisi dan arah. Jika tidak A maka B. Jika B tidak mungkin, maka carilah C. Dan begitu seterusnya. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

Percayakah Bahwa Hidupmu Akan Berubah?

“Allah tidak membutuhkan uang untuk menjalankan makhluk-Nya”

-Budi Waluyo Ph.D.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya tulis di sini. Tapi ada beberapa point besar yang bisa dijadikan pegangan para pemimpi perubahan yang lebih baik.

Quote di atas memaknai bahwa, apapun bisa menjadi mungkin. Istilahnya Bulanpun ketika Allah berkehendak, mampu Allah belah dalam sekejap. Karna Allah tidak butuh anggaran dana, NASA, atau Station Space untuk membuatnya nyata. Hidup tidak akan selamanya seperti ini. Itulah kenapa, butuh strategi yang baik dalam membentuk masa depan yang masih misteri.

Perempuan ada bukan untuk mengungguli laki-laki. Tapi untuk membangun generasi. Teruslah bergerak, karna untuk tetap bisa berdiri, sepeda atau motor itu harus tetap digerakkan. Tinggal bagaimana motor itu diarahkan ke arah yang positive.

Well, finally bisa bertemu dengan sosok CEO, salah satu pembentuk perubahan yang baik. Sebuah komunitas yang hanya berawal dari niat yang sederhana, yakni ingin membantu sesama dan mewujudkan mimpi anak bangsa, hingga sekarang mampu menjadi NGO (Non-Governmental Organization) yang besar di Negeri ini bahkan namanya sudah dikenal hingga di US. Guru sekaligus motivator, inspirator, pembimbing yang dengan rela terkuras perhatian dan waktunya untuk membantu sesama. Saya kenal dengan beliau kalau tidak salah dari tahun 2015. Ketika pertama kali SekolahTOEFL dibentuk. Hingga akhirnya diangkat menjadi Class Administrator 2 periode. Hingga sekarang diberi kepercayaan menjadi CEA (Chief Executive Assistant) di NGO ini. Meski semua bersifat relawan, justru di situlah jiwa peduli itu dibentuk. Meski bukan orang yang tergolong yang punya score TOEFL yang tinggi, tapi dengan andil untuk membantu banyak orang semampunya, akan ada manfaat dan keberkahan di dalamnya.

Terima kasih untuk Mr. Budi Waluyo PhD yang dengan totalitasnya dan istiqomahnya dalam membantu mimpi-mimpi anak-anak bangsa dalam mencapai impiannya. Pertama kali bisa bertemu padahal sudah sejak lama kami menjadi team di NGO ini hehehe. Orang Bengkulu dan Surabaya, ketemunya di Malang hehehehehe.

Semoga sukses ke depannya. Semoga Allah indahkan keluarga kecil Ka Budi bersama istri dan anak di Bengkulu untuk selalu dalam lindungan, keberkahan, dan rahmat Allah SWT. 🙂

Tafakkur Sa’ah Afdhal Min Ibadah Sittina Sanah

Dan itu benar.
Beberapa detik saja pikiran diajak untuk memikirkan keadaan sekitar, otak bisa melaju lebih cepat. Maju ke masa depan, pun berlari mundur dengan sangat cepat. Tidak perlu menunggu satu tahun untuk memahaminya. Karna takdir-Nya tidak pernah meleset.

Jika seseorang berfikir untuk tidak bersyukur, di antara mereka ada yang tinggal dengan rumah ukuran 3×6 saja.

Jika seseorang berfikir untuk tidak bersyukur, di antara mereka menjadikan jalanan menjadi teras rumah.

Jika seseorang berfikir untuk tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, aku ingin sedikit bercerita bahwa pagi ini ada yang menarik yang mengusik. Salah satu peserta membuat suatu project, dan entah detailnya bagaimana, dia melakukan survey dengan membagikan potongan kertas. Orang-orang itu diminta menulis harapannya dengan kapur putih di atas potongan kertas putih tersebut. Terdiri dari ibu-ibu, anak-anak, dan lain sebagainya.
Kami terdiam sejenak saat membaca satu harapan mereka yang kami tidak mengerti dan berfikir apa maksudnya. Kemudian kami mengerti bahwa keadaan mereka hanya berhak ditinggali. Tidak untuk menjadi hak milik.

Tidak ada yang benar-benar bahagia di dunia ini. Tapi setiap orang berusaha untuk bahagia dengan setiap kedaannya. Aku tidak sedang mengajak para pembaca untuk merasa iba dengan keadaan mereka. Karna mereka masih bisa berbahagia dan menghiasi hidupnya dengan keceriaan. Hanya saja, tersimpan pesan moral bahwa keadaan bisa saja terjadi kapanpun. Bersiap dengan segala kondisinya.

Mari bersyukur untuk sekecil apapun nikmat. Karna Allah tidak pernah ingin marah bagi siapapun yang selalu menganggap-Nya ada. Selalu melibatkan-Nya dalam setiap usaha dan aktifitasnya. Seperti cinta yang tidak pernah bebas dari rasa syahdu dan rindu lagi, lagi, dan lagi.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑